buletinaufklarung.com - Sejak akhir usia remaja hingga akhir dewasa awal, sekitar usia 20-an hingga
pertengahan 30-an, yang ditandai dengan pencarian makna hidup, tujuan karier,
serta kestabilan dalam hubungan sosial dan emosional diri yang sedikit
berlebihan hingga terkadang membuat individu merasa stress. Hal tersebut,
merupakan fase ketika individu mengalami kebingungan identitas diri serta
ketidakpastian arah hidup, biasa disebut krisis usia muda (quarter-life
crisis).
Seiring dengan perkembangan media sosial dan digital, fenomena krisis usia
muda (quarter-life crisis) semakin meningkat. Media sosial seringkali menjadi
sarana perbandingan kehidupan sosial dan membentuk ekspektasi berlebihan,
sehingga menimbulkan tekanan psikologis bagi individu. (Rahmi dan Zarkasi,
2023).
Selain dipengaruhi oleh perbandingan sosial dan dorongan ekspektasi yang
berlebihan, individu pada fase akhir remaja hingga awal dewasa sering
menghadapi tekanan dari ketidakpastian pekerjaan dan kondisi finansial (Ratih
et al. (2025)).
Tekanan tersebut juga diperkuat oleh rasa kurang percaya diri, munculnya
perasaan negatif yang berlebihan, serta keterbatasan dalam mengelola emosi,
termasuk keraguan dalam mengambil keputusan dan munculnya kecemasan (Cahyasari
M.S.D. & Winta M.V.I., 2023).
Akibat dari kondisi tersebut, krisis usia muda atau quarter-life crisis
dapat memengaruhi kesehatan psikis seseorang, bahkan berpotensi berlanjut
hingga menimbulkan gejala depresi ringan. Fenomena ini juga sering membuat
individu merasa tidak aman (insecure), berpikir berlebihan (overthinking),
serta terjebak dalam kondisi emosional yang monoton (Permana, F. B., &
Sulastri, A. 2023).
Oleh karena itu, dalam upaya mengatasi krisis usia muda atau quarter-life
crisis, pemikiran Nietzsche tentang nihilisme dapat dipandang sebagai
alternatif yang menawarkan cara pandang baru untuk keluar dari lingkaran
kebingungan.
Nihilisme adalah pandangan filsafat yang dikemukakan Nietzsche, yang
menyatakan bahwa kehidupan dan kebenaran objektif tidak memiliki makna yang
hakiki. Menurut pandangan ini, nilai moral, tujuan hidup, dan kebenaran tentang
makna bersifat relatif dan dapat berubah, karena semuanya merupakan konstruksi
manusia. Nihilisme biasanya muncul ketika individu kehilangan jati diri atau
pegangan hidup, sehingga menganggap bahwa nilai-nilai lama yang diyakini
sebagai kebenaran sejati tidak lagi relevan (Syamsudin, A.. 2020).
Nihilisme lahir sebagai respons terhadap dinamika sosial pada abad ke-19 di
Eropa. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat pada masa itu
secara perlahan menggeser keyakinan masyarakat terhadap nilai-nilai moral
tradisional. Selain itu, otoritas agama yang sebelumnya dianggap mutlak juga
mulai dipertanyakan, sehingga melahirkan pandangan bahwa nilai dan makna hidup
tidak lagi bersifat pasti (Syamsudin 2020).
Dalam pandangan Nietzsche, nihilisme merupakan bentuk kritik terhadap
hilangnya kepercayaan manusia terhadap nilai-nilai moral tradisional dan
keyakinan kepada Tuhan. Kondisi ini kemudian ia simbolkan dengan istilah
'Kematian Tuhan', yaitu sebuah metafora yang menggambarkan manusia modern telah
kehilangan iman dan keyakinannya terhadap Tuhan (Pratama, 2022).
Oleh karena itu, dalam perkembangan zaman yang semakin maju, nihilisme
tidak hanya dipahami sebagai kritik terhadap runtuhnya nilai-nilai lama. Tetapi
juga sebagai perspektif baru yang mendorong manusia modern untuk menyadari
kehilangan arah dan identitas yang sedang dialaminya.
Ketika nilai-nilai tradisional tidak lagi mampu memberikan landasan yang
kokoh. Nihilisme menuntut individu untuk meninjau kembali dasar keyakinannya,
mempertanyakan makna hidup yang selama ini diterima begitu saja, serta
membangun makna yang lebih personal dan subjektif sesuai dengan konteks
kehidupannya.
Dengan demikian, nihilisme dapat dipandang sebagai titik balik yang
mengharuskan individu menghadapi kekosongan makna sekaligus menjadi peluang
bagi manusia modern untuk menemukan identitas baru yang lebih relevan dengan
dinamika zaman.
Pemikiran Nietzsche tentang nihilisme memiliki keterkaitan dengan krisis
kehidupan yang dialami pada usia muda, seiring dengan perkembangan zaman dan
kemajuan teknologi. Dalam kondisi ini, individu sering merasakan kekosongan
hidup serta mempertanyakan arah masa depannya.
Ketika seseorang kehilangan pegangan hidup atau tujuan yang jelas terkait
pendidikan, pekerjaan, maupun eksistensinya. Maka gejala-gejala nihilistik
dapat muncul, seperti kecemasan dan penolakan terhadap nilai-nilai lama yang
telah mapan.
Dengan demikian, nihilisme dapat dipahami sebagai cerminan kebingungan
generasi muda dalam mencari makna hidup di tengah arus perubahan zaman.
Khususnya dalam pengaruh media sosial yang kerap menuntut individu untuk
menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain (Cahyasari & Winta 2023).
Sekitar rentang usia 20 hingga 30 tahun, sering dijumpai individu yang
mengalami kebingungan dalam mencari makna hidup. Misalnya, ketika mereka
dinilai berhasil oleh lingkungan sekitar, namun tetap mempertanyakan tujuan
dari keberhasilan tersebut.
Selain itu, ada pula yang berusaha memenuhi ekspektasi masyarakat tentang
“kehidupan yang ideal” sesuai standar yang telah lama ditetapkan, sehingga pada
akhirnya kondisi ini dapat menggoyahkan kepercayaan seseorang terhadap
nilai-nilai sosial maupun terhadap dirinya sendiri.
Menurut Nietzsche, keadaan tersebut bukan sekadar krisis, melainkan sebuah
peluang bagi individu untuk terus menggali dan menemukan makna hidup yang
autentik tanpa harus tunduk pada ekspektasi masyarakat atau lingkungannya (Pratama
2022).
Ketika seseorang berada dalam lingkaran pertanyaan dan kebingungan mengenai
makna hidup, Nietzsche menawarkan konsep nihilisme sebagai upaya untuk
menemukan pemaknaan baru tanpa harus terikat pada nilai-nilai tradisional yang
telah lama ditetapkan.
Dalam hal ini, konsep will to power atau kehendak untuk berkuasa
menjadi kunci solusi yang ditawarkan bagi individu yang tengah mempertanyakan
identitas dan eksistensinya. Kehendak untuk berkuasa bukan dimaknai sebagai
dominasi terhadap orang lain, melainkan sebagai dorongan batin untuk menata
ulang kehidupan, menegaskan keberadaan diri, serta menciptakan nilai-nilai baru
yang sesuai dengan kondisi dan potensi dirinya.
Individu yang berhasil keluar dari keterikatan nilai-nilai sosial dan
tradisional kemudian disebut sebagai Übermensch, yaitu manusia yang
mampu meneguhkan eksistensinya dengan meninggalkan nilai-nilai eksternal dan
menggantinya dengan nilai-nilai yang lahir dari kemampuan dan kebebasan dirinya
sendiri (Nietzsche 2008; Pratama 2022).
Diperlukan keberanian serta keyakinan terhadap diri sendiri untuk membangun
nilai-nilai baru yang sesuai dengan kapasitas individu, tanpa harus terikat
pada nilai-nilai lama yang dirasakan tidak mampu dijalankan atau terlalu
mengekang.
Pemikiran Nietzsche tentang nihilisme memberikan pandangan sekaligus
tawaran solusi bagi individu yang kehilangan arah eksistensial dan
mempertanyakan makna kehidupannya. Dalam konteks kehidupan modern, khususnya di
tengah tekanan media sosial dan standar sosial yang semakin kabur, generasi
muda ditantang untuk melepaskan diri dari nilai-nilai yang tidak lagi diyakini
dan mulai membangun makna hidup yang selaras dengan dirinya sendiri.
Nietzsche seolah mengarahkan generasi muda untuk tidak hanya bertanya
“siapa saya?”, tetapi juga “siapa yang ingin saya ciptakan dari diri saya?”,
yakni sebuah ajakan untuk menjadi pribadi yang tidak sekadar menjalani hidup,
melainkan menghidupi kehidupannya secara sadar dan otentik.
Dengan demikian, krisis yang tampak sebagai bentuk kehancuran sesungguhnya dapat dipahami sebagai peluang bagi kelahiran kembali manusia yang merdeka secara eksistensial (Nietszche 2008).
Nabila Al-Jannata
Hilmi
Santri Pusat Kajian
Filsafat dan Teologi